PROSES SOSIALISASI
Makalah Ini
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Terstruktur Mata Kuliah Sosiologi Pendidikan
OLEH :
FITRI EKA DINANTI (11211200639)
MARDHIAH (11211201422)
MARLIA
JULIANTI (11211201563)
MELDA
YANI (11211201220)
Dosen pembimbing
:
Nunu Mahnun S.Ag, M.Pd
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF QASIM RIAU
PEKANBARU
2012/2013
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proses
sosialisasi merupakan suatu proses di mana individu dapat belajar tentang
aturan-aturan atau norma-norma dan nilai-nilai yang ada di lingkungannya.
Lingkungan yang dimaksud di sini dapat berupa keluarga, sekolah, masyarakat (kelompok
teman sebaya) ataupun media massa. Seorang individu dalam kehidupan
masyarakatnya akan selalu belajar kebudayaan melalui proses‐proses
internalisasi, sosialisasi, dan kulturasi secara bersamaan. Sosialisasi ini
akan berlangsung sepanjang hidup, yakni sejak lahir hingga mati.
Begitu pentingnya
tentang sosialisai dalam kehidupan sehari-hari, maka dalam makalah ini akan
membahas tentang proses sosialisasi dalam kehidupan sehari-hari, tentang proses
sosialisasi dalam lingkungan keluarga, sekolah dan teman sebaya. Agar setiap
individu dapat bersosialisasi dengan baik pada lingkungannya.
1.2 Rumusan Masalah
A. Apa yang dimaksud dengan sosialisasi ?
B. Bagaimana sosialisasi di keluarga ?
C. Bagaimana sosialisasi dengan teman
sebaya ?
D. Bagaimana sosialisasi di sekolah ?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan ini adalah agar
pembaca dapat mengetahui, memahami serta paham tentang apa itu sosialisasi dan
bagaimana proses berlangsungnya sosialisasi dalam lingkungan keluarga, teman
sebaya dan sekolah.
|
|
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Sosialisasi
Sosialisasi
menurut Prof. Dr. Nasution, S.H. adalah proses membimbing individu ke dunia
sosial (sebagai warga masyarakat yang dewasa).[1] Berikut
beberapa pengertian sosialisasi lainnya menurut para ahli:[2]
a. Kamus Besar Bahasa Indonesia
Sosialisasi artinya proses belajar seorang anggota
masyarakat untuk mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat di
lingkungannya.
b. Soerjono Soekanto
Sosialisasi adalah proses sosial tempat individu mendapatkan
pembentukan sikap untuk berperilaku yang sesuai dengan perilaku orang di
sekitarnya.
c. Peter L. Berger
Sosialisasi adalah proses pada anak yang sedang
belajar menjadi anggota masyarakat.
d. Sukandar Wiraatmaja
Sosialisasi adalah proses belajar mulai bayi untuk
mengenal dan memperoleh sikap, pengertian, gagasan dan pola tingkah laku yang
disetujui masyarakat.
Jadi,
dari pengertian di atas dapat kami simpulkan bahwa sosialisasi adalah suatu
proses di mana individu belajar memahami, menghayati, menyesuaikan dan
melaksanakan nilai, norma dan segala pola yang ada pada masyarakat.
|
|
2.2
Keluarga dan Sosialisasi
Keluarga
merupakan institusi yang
memiliki pengaruh penting terhadap proses sosialisasi
manusia atau individu.
Hal ini dimungkinkan karena berbagai kondisi yang dimiliki oleh keluarga, yakni :[5]
a. Keluarga merupakan kelompok primer yang selalu
tatap muka diantara anggotanya, sehingga dapat selalu mengikuti perkembangan
anggota-anggotanya.
b. Orang tua mempunyai kondisi yang tinggi
untuk mendidik anak-anaknya, sehingga menimbulkan hubungan emosional di mana
hubungan ini sangat diperlukan dalam proses sosialisasi.
c. Adanya hubungan sosial yang tetap, maka
dengan sendirinya orang tua mempunyai peranan yang penting terhadap proses
sosialisasi anak.
Keluarga mempunyai peranan
yang penting dalam proses sosial pada individu atau manusia, karena keluarga
merupakan kelompok primer atau utama. Keluarga menjadi faktor yang penting
karena :[6]
a. Keluarga memberikan kesempatan kepada
anggotanya untuk menyadari dan memperkuat nilai kepribadiannya.
b. Keluarga mengatur dan menjadi perantara
hubungan anggota-anggotanya dengan dunia luar.
Keluarga berfungsi sebagai
miniatur masyarakat yang mensosialisasikan nilai-nilai atau peran-peran hidup
dalam masyarakat yang harus dilaksanakan oleh para anggotanya. Dalam keluarga,
orang tua mencurahkan perhatian untuk mendidik anaknya agar anak tersebut memperoleh
dasar-dasar pola pergaulan hidup yang benar melalui penanaman disiplin sehingga
membentuk kepribadian yang baik bagi si anak, agar kelak dapat diterima di
lingkungan masyarakat. Proses sosialisasi di dalam
lingkungan keluarga tertuju pada keinginan orang tua untuk memotivasi kepada
anak agar mempelajari pola prilaku yang diajarkan keluarganya. Sehingga keluarga harus mampu
memberikan motivasi kepada
anggotanya untuk mau mempelajari segala kebudayaan yang ada di masyarakat
tersebut. Cara motivasi ini peting dalam proses sosialisasi
karena tidak hanya mempengaruhi
tingkah laku anak, melainkan juga perkembangan intelektualnya.
Proses sosialisasi pada keluarga dapat terjadi secara formal dan informal.
Secara formal anak diajarkan melalui pendidikan dan pengajaran sedangkan secara
informal, anak diajarkan melalui proses interaksi yang dilakukan secara tidak
sengaja.[7] Antara proses sosialisasi informal sering kali menimbulkan jarak
karena apa yang dipelajari secara formal sering kali bertentangan dengan yang
dilihatnya. Situasi yang demikian sering menimbulkan konflik dalam batin anak.
Salah satu hal yang menentuka proses sosialisasi di
lingkungan kerluarga adalah corak atau
pola hubungan antara orangtua dan anak berdasarkan penelitian
yang dilakukan oleh Fels Research Institute (Vembriarto, 1984) dapat dibedakan
menjadi tiga pola, yaitu:[8]
1. Pola menerima-menolak. Pola ini
didasarkan atas taraf kemesraan orang tua terhadap anak;
2. Pola memiliki-melepaskan. Pola ini
bergerak dari sikap protektif orang tua terhadap anak. Pola ini bergerak dari
sikap orang tua yang over-protective
dan memiliki anak sampai kepada sikap mengabaikan anak sama sekali; dan
3. Pola demokrasi-otokrasi. Pola ini
didasarkan atas taraf partisipasi anak dalam menentukan kegiatan-kegiatan dalam
keluarga. Pola otokrasi berarti orang tua bertindak sebagai diktator terhadap
anak, sedngkan pola demokrasi, sampai batas-batas tertentu, anak dapat
berpartisifasi dalam keputusan-keputusan keluarga.
2.3
Sekolah dan Sosialisasi
Sekolah
merupakan salah sau lembaga pendidikan yang diciptakan oleh
pemerintah untuk mendidik anak-anak sebagai langkah untuk mempersiapkan potensi
anak dalam rangka membangun Negara. Dalam melaksanakan pembangunan itu diperlukan banyak keahlian
tertentu yang hanya akan dapat diperoleh melalui lembaga pendidikan. Melalui
lembaga pendidikan anak diasah kecerdasan dan keahliannya.[9]
Peranan sekolah sebagai lembaga yang membantu lingkungan keluarga,
membuat sekolah mempunyai tugas mendidik dan mengajar serta memperbaiki dan
memperhalus tingkah laku anak didik yang dibawa dari keluarganya. Selain itu dalam perkembangan kepribadian anak didik,
peranan sekolah adalah melalui kurikulum, antara lain sebagai berikut:[10]
a. Anak didik belajar bergaul sesama anak
didik, antara guru dengan anak didik, dan antara anak didik dengan orang yang
bukan guru (karyawan).
b. Anak didik belajar mentaati
peraturan-peraturan sekolah.
c. Mempersiapkan anak didik untuk menjadi
anggota masyarakat yang berguna bagi agama, bangsa dan negara.
Sekolah merupakan media sosialisasi yang lebih luas dari
keluarga. Sekolah mempunyai pengaruh yang cukup besar dalam pembentukan sikap dan
perilaku seorang anak. Sekolah juga mempersiapkan penguasaan paranan-peranan
baru untuk individu dikemudian hari agar dapat menjadi pribadi yang lebih mandiri.
Berbeda dengan sosialisasi dalam keluarga di mana anak masih
dapat mengharap bantuan dari orang tua dan acapkali memperoleh perilaku khusus,
di sekolah anak dituntut untuk bisa bersikap mandiri dan senantiasa memperoleh
perlakuan yang tidak berbeda dari teman-temannya. Di sekolah anak juga banyak
belajar untuk mencapai pretasi yang baik, maka yang diperlukan adalah kerja
keras .
Secara rinci, Robert Dreeben(1968) mencatat beberapa hal yang
dipelajari anak di sekolah selain membaca, menulis, dan berhitung adalah aturan
mengenai kemandirian, prestasi, universalisme, spesifitas.[11]
Selain itu ada beberapa hal yang ditanamkan dalam jiwa peserta didik
diantaranya:[12]
a.
Kemandirian,
dalam arti peserta didik diarahkan untuk membiasakan diri melepaskan
ketergantungannya dengan orangtua. Bentuk ketergantungan seorang anak dirumah
biasa sifat ingin dimanja oleh orangtua, kakak, atau abang. Di sekolah anak
mulai belajar melepaskan ketergantungannya itu,
ia dituntut untuk mengerjakan tugas tanpa bantuan orangtuanya, tugas
harus dikerjakan sendiri, tidak boleh menyontek dan curang.
b.
Prestasi,
artinya jika berada dirumah seorang anak lebih banyak beperilaku berdasarkan
peranan bawaan (heredity), seperti peran seorang adik atau kakak, akan tetapi
disekolah peranan anak justru merupakan peran yang bukan pembawaannya yaitu
peran yang diarahkan, peran yang dikendalikan. Tatanan yang berlaku dalam
pendidikan adalah berpangkal pada jenjang prestasi, bukan hierarki,
kekerabatan.
c.
Universalisme,
seorang anak di rumah mendapatkan perlakuan khusus (particular), akan tetapi di
sekolah ia tidak akan mendapat perlakuan khusus sebagaimana di rumah, sebab
sekolah memperlakukan sama kepada semua siswa. Perlakuan yang sama kepada semua
siswa ini disebut universal. Dengan demikian, sekolah merupakan masa peralihan
antara dunia keluarga dan dunia kemasyarakatan.
2.4
Kelompok Sebaya dan Sosialisasi
Kelompok bermain baik yang berasal dari kerabat, tetangga
maupun teman sekolah merupakan agen sosialisasi yang pengaruhnya besar dalam
membentuk pola-pola perilaku seseorang.[13]
Di dalam kelompok bermain anak banyak mempelajari kemampuan baru yang tidak
didapatkan di lingkungan keluarga.
Di dalam kelompok bermain individu mempelajari norma nilai,
kultural, peran, dan semua persyaratan lainnya yang dibutuhakan individu untuk
memungkinkan partisipasinya yang efektif di dalam kelompok bermainannya.[14] Singkatnya,
kelompok bermain atau
kemlompok sebaya ikut berperan dalam pembentukan sikap
individu agar sesuai dengan perilaku kelompoknya.
Kelompok
teman sebaya memiliki berbagai macam tipe, yaitu modern dan tradisional. Pada
kelompok modern memiliki kultur yang heterogen sedangkan pada kelompok
masyarakat tradisional cenderung memiliki kultur yang homogen.[15]
Heterogen yang terjadi disebabkan pada kelompok bermain dengan lingkungan
modern terdiri dari berbagai macam latar belakang yang berbeda atau latar
belakang keluarga yang berbeda. Sedangkan pada kelompok bermain yang
tradisional, homogen terjadi karena lingkungan yang cenderug terdiri dari 1
latar belakang atau 1 komunitas.
Dari
struktur yang berbeda tersebut maka menghasilkan bentuk kepribadian yang
berbeda pula. Sehingga tak bisa di pungkiri lagi bahwa kelompok teman sebaya
memiliki peran
yang cukup besar dalam proses sosialisasi. Cara masyarakat modern dan
masyarakat tradisional mengajarkan nilai-nilai sosial dapat dilihat dari
kepribadian dari kedua tipe kelompok masyarakat tersebut. Kepribadian
masyarakat modern
cenderung lebih bersifat luwes dalam menerima setiap perubahan kultural, sedangkan kelompok masyarakat tradisional biasanya
lebih bersifat konservatif.[16]
Puncak pengaruh dari
kelompok sebaya ini adalah terjadi pada saat menginjak usia remaja. Hal ini
terjdi karena pada usia seperti ini, anak akan sering berada di luar rumah dan
cenderung lebih senang menghabiskan waktu bersama teman-temannya dibandingkan
bersama orangtuanya. Sehingga kelompok teman sebaya yang baik akan memberikan
proses sosialisasi yang baik. Begitu pula sebaliknya bila kelomopok teman
sebaya tersebut tidak baik. Jadi, perlu bagi orangtua untuk senantiasa
mengawasi kepada siapa anaknya sering beragul.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Proses sosialisasi dapat
terjadi dengan adanya interaksi antara anggota masyarakat. Melalui proses
sosialisasi inilah individu diajarkan tentang berbagai macam norma, nilai, adat
dan segala macam peraturan yang ada di masyarakat sehingga kelak individu
tersebut dapat diterima oleh lingkungannya.
Ada 3 pihak
yang memiliki peran sangat besar terhadap proses sosialisasi di dalam
kehidupan, yaitu : keluarga, kelompok teman sebaya dan pendidikan. Ketiga pihak
ini merupakan agen dari proses sosialisasi. Sehingga kondisi dari ketiga pihak
ini sangat menentukan bentuk dari proses sosialnya.
3.2
Saran
Proses
sosialisasi sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat karena melalui proses
inilah individu banyak belajar tentang lingkungannya, sehingga perlu rasanya
menciptakan suasana yang baik agar proses sosialisasi dapat berlangsung dengan
baik pula.
|
|
DAFTAR
KEPUSTAKAAN
S. Nasution,2004, Sosiologi Pendidikan,Jakarta; Bumi Aksara
J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto, 2007, Sosiologi Teks Pengantar Dan Terapan, Jakarta;
Kencana
Elly M. Setiadi dan Usman Kolip,2011, Pengantar Sosiologi, Jakarta; Kencana
http://Wawan-Junaidi.Blogspot.Com/2010/ 04/ Proses-Sosialisasi.html
[2]
Hedi Sasrawan, “Pengertian Sosialisasi (artikel lengkap)”,Hedi Sasrawan,
diakses dari http://hedisasrawan.blogspot.com/2013/01/pengertian-sosialisasi-artikel-lengkap,
pada tgl 06 Maret 2013, pukul 20.52.
[4]
Wawan Junaidi,”Proses Sosialisasi”,Media Pembelajaran, Referensi dari buku
“Sosiologi” Kelas 1 SMA,Hlm.74,Penerbit Yudhistira,diakses dari http://Wawan-Junaidi.Blogspot.Com/2010/ 04/ Proses-Sosialisasi.html,pada tgl 24 Februari
2013,pukul 12.15
[10]
cimeissa03,
“PROSES SOSIALISASI PESERTA DIDIK DI SEKOLAH”, cimeissa03, diakses dari http://cimeissa03.wordpress.com/2011/12/14/proses-sosialisasi-peserta-didik-di-sekolah, pada tanggal 24
Februari 2013 pukul 12.27
0 Response to "Makalah Proses Sosialisasi"
Posting Komentar